tari_pendet

ARTIKEL PERTAMA

Ini tulisan saya yang pertama dan merupakan tugas dari dosen untuk menulis sebuah artikel semoga mohan komentnya tentang artikel ini…

Kecolongan, Cerminkan Kondisi Negara

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdapat banyak suku, budaya, agama,ras dan adat istiadat beraneka ragam. Kebudayaan Indonesia sangat melimpah, akan tetapi banyak dari kebudayaan tersebut diklaim oleh negara tentangga dekat kita sendiri yaitu Malaysia. Malaysia dengan gampangnya mengklaim budaya kita, seperti balita yang jika melihat mainan yang menurutnya bagus dan menarik maka dengat cepat dia mengaku “itu punya saya” walaupun dia tahu bahwa barang itu bukan miliknya.

Klaim Malaysia terhadap budaya Indonesia mulai meresahkan masyarakat. Banyak situs-situs atau blog-blog yang beredar di internet mengkutuk dan menghujam Malaysia. Mereka mengatakan malinglah, pencuri dan lain sebagainya. Bagaimana tidak bukan hanya satu atau dua tapi puluhan khasanah budaya kita yang diklaim. Dikutip dari situs warnadunia.com (15/04/09), kain batik merupakan salah satu khazanah budaya Indonesia yang pertama kali diklaim oleh Malaysia. Tiba-tiba Malaysia memperkenalkan kain batik sebagai barang buatan asli Malaysia ke mancanegara di awal tahun 2000. selain itu menyusul lagu “Rasa Sayange” yang menurut mereka lagu tersebut dibuat pada tahun 1907 oleh waraga Malaysia. Tidak puas dengan mengklaiam batik dan lagu Rasa Sayange mereka merambah dunia tarian yang mana Tari Barongan yang mirip dengan Tari Reog Ponorogo dari Jawa timur juga diklaim sebagai miliknya.

Sejumlah kekayaan budaya lain yang diklaim malaysia yaitu naskah kuno dari berbagai daerah seperti Sumatra Barat, Riau, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Lagu Jali-Jali yang berasal dari Betawi pun dicaplok sama negeri Jiran ini. Merasa kurang dengan hanya menklaim lagunya saja, negara tetangga ini juga mengaku alat musik Gamelan dan Angklung sebagai milik mereka. Makanan khas Indonesiapun mereka patenkan seperti rendang dari Sumatra Barat, dan masih bayak lagi budaya-budaya Indonesia yang diklaim Malaysia.

Bangsa kita mengalami kecolongan budaya yang dapat dikatakan merupakan cermin atau refleksi bagi masyarakat maupun pemerintah Indonesia. Masyarakat dan pemerintah sebagai pemilik kebudayaan ini kurang akan kepeduliannya selama ini. Kita yang memiliki budaya tidak mampu atau kurang perhatikan dalam melihat potensi dan eksistensi kebudayaan itu sendiri. Malaysia menyadari potensi dan eksistensi kebudayaan kita merupakan senjata ampuh diplomasi internasional. Malaysia tahu minim kebudayaan sehingga untuk mereka melirik kebudayaan Indonesia yang sangat potensial. Namun Malaysia mengklaim budaya Indonesia sebagai miliknya.

Menurut guru besar Institut Seni Indonesia Denpasar, Profesor Wayan Dibia, upaya Malaysia menggunakan elemen budaya Indonesia sebagai bahan promosi wisata mereka merupakan suatu hal yang wajar dan sah-sah saja. Meski boleh menggunakan elemen budaya Indonesia dalam berpromosi, namun Malaysia diminta tetap mengakui produk budaya Indonesia dan bukan mengklaim budaya milik atau ciptaannya.

Selain menyadari akan potensi dan eksistensi budaya kita, mereka jeli melihat situasi masyarakat Indonesia dimana sebagian besar masyarakat sudah tidak begitu memperhatikan kebudayaannya sendiri. Ini dapat dilihat dari sebagian besar rakyat Indonesia lebih bangga menggunakan budaya asing ketimbang budayanya sendiri. Dewasa ini tidak sedikit kebudayaan Indonesia yang hampir punah. Hal ini disebabakan hanya segelitir orang yang masih mau melestarikan budaya kita. Masyarakat sekarang lebih senang mengajarkan anak-anaknya budaya-budaya asing. Dewasa ini, anak-anak lebih senang bermain Plastation, pergi ke Timezone, nonton televise yang kurang mendidik dan tidak diajarkan budaya Indonesia, menyanyikan lagu asing yang mereka sendiri belum mengetahui arti dari lagu tersebut. Kita dapat teliti seberapa banyak anak Indonesia yang menggunakan dan mengetahui permainan serta lagu daerah.

Masyarakat dan pemerintah Indonesia dalam hal ini harus lebih peka terhadap situasi tersebut. Pemerintah semestinya melakukan promosi dan mengkomunikasikan bahwa inilah kebudayaan Indonesia jangan hanya kebudayaan orang luar yang dipromosikan. Banyak media komunikasi yang dapat dijadikan alat untuk mengkomunikasikan kebudayaan tersebut seperti internet, stasiun televisi dan radio. Jangan hanya sinetron atau reality show yang sebagian besar menampilkan budaya asing. Hal ini dilakukan agar masyarakat Indonesia dan internasional lebih banyak mengenal budaya Indonesia. Jika Malaysia terus menerus mencaplok budaya Indonesia dan mempromosikan kebudayaan kita, maka warga manacanegara akan menganggap produk budaya Indonesia adalah milik Malaysia. Sebab negeri Jiran ini sangat royal dalam mempromosikan pariwisatanya. Mereka tidak tanggung-tanggung mengeluarkan uang untuk berpromosi. Sayang Indonesia tidak berpikiran demikian. Katanya biaya untuk promosi tidak cukup dan membutuhkan dan yang lumayan besar. Seandainya uang korupsi dijadikan dana untuk promosi pariwisata budaya kita, saya yakin kita dapat membiayai promosi ini sampai ke taraf internasional. Di samping itu pemerintah juga harus bergerak cepat dalam hal meregistrasikan hak cipta kebudayaan Indonesia yang beragam ini agar tidak lagi diklaim Malaysia atau negara lain.

Selain itu untuk melestarikan dan memelihara budaya kita pemerintah juga harus membuat kembali kurikulum tentang kesenian daerah di sekolah-sekolah. Di mana lagi anak-anak dapat belajar kebudayaan Indonesia selain di sekolah sebab anak-anak akan lebih senang jika dapat belajar bersama dengan temannya dan akan lebih melekat di kepala mereka. Karena anak-anak inilah generasi penerus dalam mempertahankan dan memelihara kebudayaan tradisional Indonesia. Di samping itu pemerintah juga sebaiknya memberikan penghargaan dan apresiasi kepada mereka yang berprestasi dalam bidang seni dan budaya. Alangkah sedihnya jika sepuluh atau dua puluh tahun kemudian kebudayaan Indonesia sudah punah di Indonesia tapi di negara lain kebudayaan tersebut menjadi kebanggaan dan dapat menghasilkan keuntungan dari kebudayaan tersebut, atau dengan kata lain kebudayaan kita diklaim semua sehingga Indonesia hanya tinggal menonton saja.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Ye…Pesta bloger 2009 di Makassar

Komunitas bloger Indonesia mengadakan pesta blogger di makassar bertempat di Perpustakaan Pusat UNHAS.  pesertanya banyak lo…

wah seru juga buat blog, dulu punya blog tapi nggak tau mau posting apa tapi sekarang setelah ikut pelatihan ini jadi terbuka deh idenya

hahahaha

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | 2 Komentar

Hello world!

Selamat datang di dagdigdug.com. Ini merupakan post pertama Anda. Sunting atau hapus artikel ini, dan selanjutnya kami ucapkan selamat ngeblog!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar